Ekstase pada Pagi Hari
Bangun pagi dan menghirup angin yang datang dari arah laut menyuguhkan kesegaran tersendiri. Sisa kabut semalam masih tertinggal di sela pohon-pohon kelapa. Embun masih terlihat seperti mutiara. Bening. Deburan ombak menggeliat. Sinar matahari yang datang dari Timur memberi aksen emas pada hamparan laut.
Hari ini, Selasa 31 Maret 2009. Saya jalan kaki keliling pantai. Mendengar kicauan burung dan kokokan ayam. Suasana di pinggir pantai belum terlihat kesibukan. Satu dua orang berlari pagi di bibir pantai. Nelayan menarik jaring. Jaring kehidupan untuk makan hari ini.
Jalan kaki terus menelusuri bibir pantai. Matahari mulai naik. Keringat jatuh satu persatu.
Ayam Kampung Bakar Nan Menggoda
Menikmati Pangandaran tak cukup sekedar berenang di pantai saja. Atau menikmati sunset matahari menjelang sore tiba. Namun ada banyak keunikan lain yang bisa dinikmati. Salahsatunya wisata kuliner.
Sea food? ah, itu mah basi. Ada kuliner lain yang bisa Anda nikmati. Sajian kuliner ini menjelang sore hingga malam hari. Salahsatunya adalah ayam kampung bakar . Ayamnya wangi banget. Ukurannya montok. Dagingnya tebal. Dan tidak liat.
Rasa paling mencolok dari ayam bakar ini terletak pada wanginya. Terasa gurih. Kental dengan rasa santan dan kemiri. Sebelum kering kena bakar, ayam ini dicelupkan pada bumbu cair. Biasanya sampai satu atau dua kali celup.
Nah, arang yang panas membuat bumbu itu langsung meresap hingga ke dalam daging. Kepulan asapnya bisa menggelitik perut dan langsung menampar hidung. Teksturnya cantik sekali. Warnanya kuning menggoda.
Tenang saja, Anda cukup duduk manis. Dan pasang senyum lebar. Si pendekar yang membakar ayam itu sudah lihai. Tak butuh lama untuk membakar ayam itu hingga tersaji di depan pandangan Anda. Nah, setelah ayam siap. Nasi panas, sambal dan lalab langsung meluncur ke meja makan. Setelah itu, monggo tumpahkan emosi dan nafsu Anda pada hidangan ayam bakar nan lezat itu.
Kata si pendekar, ayam kampung ini asli dari perkampungan sekitar Pangandaran. Namun, kalau stok ayam lagi seret, si pendekar terpaksa hunting hingga kampung lain. Misalnya berburu hingga Cimerak. Sekitar satu jam dari Pangandaran.
Tampang Si Pendekar tambun. Dan murah senyum. Bisa diajak ngobrol ngaler ngidul. Bahkan sambil ngegeber hihid -you know? it’s mean tipas (Jawa)- si pendekar masih bisa melayani serangan wawancara dari saya.
“Tahun 2002 saya jualan ayam bakar. Saya potong 10 ekor. Laku ” sambil tersenyum.
Pilihan untuk berdagang ayam bakar sudah ia impikan sejak lama. Ketika ia mengadu nasib di Malaysia. Di sana, ia menjadi buruh pada tahun 1999. Namun, hidupnya tidak tenang. Terkadang ia mesti petak umpat dengan petugas kepolisian di Malaysia untuk menghindari operasi. Sempat ia kena todong dari polisi Malaysia. Mengelandang dan tidur dijalanan.
“Sedih, mas. Tapi sejak itu saya kepikiran untuk berwirausaha,” katanya.
Ia dengan istrinya mulai merintis usaha dagang ayam bakar itu. Meramu bumbu. Dan mencari rahasia untuk menambah ciri khas ayam kampung bakarnya. Kerja kerasnya berhasil. Dan membuat hidup dan keluarganya menjadi tenang.
Satu porsi ayam bakarnya seharga 15 ribu rupiah. Setiap hari ia bisa menjual hingga 30 potong. Ada dada, paha dan ati ampela. Selain ayam kampung bakar, Anda juga bisa menikmati sajian susu jahenya. Mantap banget. Hangat.
“Tapi sejak tsunami agak menurun. Sekarang sih udah mulai baik lagi,” katanya.
Sayangnya, lokasi tempat ia berdagang, di terminal Pangandaran saja. Coba kalau jualannya dekat pinggir pantai. Pasti, sensasinya beda. Nah, bagi Anda yang berwisata ke Pangandaran harus coba ayam kampung bakarnya. Saya jamin, sekali coba, Anda pasti ketagihan.
Anda pasti bingung, menerka-nerka siapa si pendekar ayam kampung bakar ini? Bagaimana bentuk dan tekstur ayam kampung bakarnya? Nantikan cerita lanjutannya dari saya