Perjalanan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa 2009-2010

Hampir satu tahun berjalan keliling Indonesia. Naik sepeda motor. Melihat Indonesia dari dekat. Menulis. Motret dan merekam tentang kehidupan alam dan manusianya. Ini sekedar catatan perjalanan yang sudah saya unduh di halaman facebook pribadi. Selamat menikmati setiap ceritanya. Saat ini saya sekuat daya dan banting tulang untuk segera merampungkan catatan perjalanannya menjadi sebuah buku.

Saya Kembali!

Salam,

Sudah lama tak menengok blog. Hampir satu tahun ini melakukan perjalanan panjang keliling Indonesia. Saya ikut dalam ekspedisi Zamrud Khatulistiwa mulai Juni 2009 hingga hari ini. Akhirnya, blog saya terbengkalai.

Hari ini, saya menengok blog saya. Sedih juga melihatnya. Blog terasa sepi dan menyendiri. Lebih sedih lagi, karena saya sempat lupa dengan password-nya. Sampai pagi ini, tba-tiba saya ingat dan berhasil masuk ke dalam dapur blog saya.

Selama perjalanan saya menulis soal Indonesia. Kebanyakan tulisan saya diupload di facebook dan website Zamrud Khatulistiwa.

Saya ingin merapikan kembali catatan perjalanan itu. Dan kemudian saya upload lagi di blog saya. Mulai perjalanan di Sumatra hingga Papua. Dan perjalanan ini akan berakhir di Jakarta, Mei atau Juni mendatang.

Hari ini saya mulai merapikan blog ini. Dan kembali membiarkan saya untuk larut dalam menulis.

Salam hangat dari Sorong,

Ahmad Yunus

Ekstase pada Pagi Hari

Bangun pagi dan menghirup angin yang datang dari arah laut menyuguhkan kesegaran tersendiri. Sisa kabut semalam masih tertinggal di sela pohon-pohon kelapa. Embun masih terlihat seperti mutiara. Bening. Deburan ombak menggeliat. Sinar matahari yang datang dari Timur memberi aksen emas pada hamparan laut.

Hari ini, Selasa 31 Maret 2009. Saya jalan kaki keliling pantai. Mendengar kicauan burung dan kokokan ayam. Suasana di pinggir pantai belum terlihat kesibukan. Satu dua orang berlari pagi di bibir pantai. Nelayan menarik jaring. Jaring kehidupan untuk makan hari ini.

Jalan kaki terus menelusuri bibir pantai. Matahari mulai naik. Keringat jatuh satu persatu.

Ayam Kampung Bakar Nan Menggoda

Menikmati Pangandaran tak cukup sekedar berenang di pantai saja. Atau menikmati sunset  matahari menjelang sore tiba. Namun ada banyak keunikan lain yang bisa dinikmati.  Salahsatunya wisata kuliner.

Sea food? ah, itu mah basi. Ada kuliner lain yang bisa Anda nikmati. Sajian kuliner ini menjelang sore hingga malam hari. Salahsatunya adalah ayam kampung bakar . Ayamnya wangi banget. Ukurannya montok. Dagingnya tebal. Dan tidak liat.

Rasa paling mencolok dari ayam bakar ini terletak pada wanginya. Terasa gurih. Kental dengan rasa santan dan kemiri. Sebelum kering kena bakar, ayam ini dicelupkan pada bumbu cair. Biasanya sampai satu atau dua kali celup.

Nah, arang yang panas membuat bumbu itu  langsung meresap hingga ke dalam daging. Kepulan asapnya bisa menggelitik perut dan langsung menampar hidung. Teksturnya cantik sekali. Warnanya kuning menggoda.

Tenang saja, Anda cukup duduk manis. Dan pasang senyum lebar. Si pendekar yang membakar ayam itu sudah lihai. Tak butuh lama untuk membakar ayam itu hingga tersaji di depan pandangan Anda. Nah, setelah ayam siap. Nasi panas, sambal dan lalab langsung meluncur ke meja makan. Setelah itu, monggo tumpahkan emosi dan nafsu Anda pada hidangan ayam bakar nan lezat itu.

Kata si pendekar, ayam kampung ini asli dari perkampungan sekitar Pangandaran. Namun, kalau stok ayam lagi seret, si pendekar terpaksa hunting hingga kampung lain. Misalnya berburu hingga Cimerak. Sekitar satu jam dari Pangandaran.

Tampang Si Pendekar tambun. Dan murah senyum.  Bisa diajak ngobrol ngaler ngidul. Bahkan sambil ngegeber hihid -you know? it’s mean tipas (Jawa)- si pendekar masih bisa melayani serangan wawancara dari saya.

“Tahun 2002 saya jualan ayam bakar.  Saya potong 10 ekor. Laku ” sambil tersenyum.

Pilihan untuk berdagang ayam bakar sudah ia impikan sejak lama. Ketika ia mengadu nasib di Malaysia. Di sana, ia menjadi buruh pada tahun 1999. Namun, hidupnya tidak tenang. Terkadang ia mesti petak umpat dengan petugas kepolisian di Malaysia untuk menghindari operasi. Sempat ia kena todong dari polisi Malaysia. Mengelandang dan tidur dijalanan.

“Sedih, mas. Tapi sejak itu saya kepikiran untuk berwirausaha,” katanya.

Ia dengan istrinya mulai merintis usaha dagang ayam bakar itu. Meramu bumbu. Dan mencari rahasia untuk menambah ciri khas ayam kampung bakarnya. Kerja kerasnya berhasil. Dan membuat hidup dan keluarganya menjadi tenang.

Satu porsi ayam bakarnya seharga 15 ribu rupiah.  Setiap hari ia bisa menjual hingga 30 potong. Ada dada, paha dan ati ampela. Selain ayam kampung bakar, Anda juga bisa menikmati sajian susu jahenya. Mantap banget. Hangat.

“Tapi sejak tsunami agak menurun. Sekarang sih udah mulai baik lagi,” katanya.

Sayangnya, lokasi tempat ia berdagang, di terminal Pangandaran saja. Coba kalau jualannya dekat pinggir pantai. Pasti, sensasinya beda. Nah, bagi Anda yang berwisata ke Pangandaran harus coba ayam kampung bakarnya. Saya jamin, sekali coba, Anda pasti ketagihan.

Anda pasti bingung, menerka-nerka siapa si pendekar ayam kampung bakar ini? Bagaimana bentuk dan tekstur ayam kampung bakarnya? Nantikan cerita lanjutannya dari saya😀

Emas Hijau dari Nirangkliung

Marcellinus Aseng pernah merasakan kejayaan vanilla tiga tahun lalu. Saat itu harga tiap kilogram vanilla basah bisa mencapai 340 ribu rupiah. Kebunnya bisa menghasilkan 300 kilogram sekali panen. Penghasilan kotor dari vanillanya bisa mencapai 102 juta rupiah.

Namun saat ini, kejayaan vanilla pupus sudah. Tak ada lagi senyum tawa pada petani ini. Harga meluncur jatuh seperti roller coster pada angka 2500 rupiah tiap kilogramnya. Petani Nirangkliung ini pun meninggalkan tanaman vanillanya.

“Dulu bibit saya dapatkan dari Ruteng,” katanya. Ia mengaku tidak mengalami banyak kesulitan untuk budidaya tanaman ini. Padahal budidaya vanilla butuh perlakuan untuk melakukan kawin silang agar bisa berbuah.

Nirangkliung berada di dataran tinggi Kecamatan Nita, Maumere, Kabupaten Sikka. Daerah ini banyak pohon kakao, kopi, lada hingga aren. Tanahnya subur. Air sungai mengalir deras dan tak pernah kering walau musim kemarau.

Warga tinggal berjauhan dari satu kampung ke kampung lainnya. Jaraknya cukup jauh dan mesti melewati perkebunan rakyat. Akses jalannya juga tidak mudah. Terjal, melewati sungai, hingga menerobos pohon bambu yang tumbuh liar. Beberapa kali saya lihat air terjun dari kejauhan.

Walau tanahnya subur, kebanyakan petani di sini tidak merawat kebunnya dengan baik. Pohon kakao tumbuh tanpa perawatan hingga menyerupai hutan. Daunnya lebat sekali. Batangnya tebal. Namun buahnya tidak terlihat subur.

Begitu juga dengan nasib vanilla. Tanaman ini dibiarkan tumbuh begitu saja seperti rumput liar dan tidak terurus.

“Saya masih sanggup mengurusi vanilla. Namun harganya sudah jatuh. Jadi buat apa budidaya lagi,” katanya kepada saya.

Marcellinus terlihat pasrah. Ia memiliki kebun seluas satu hektar. Selain vanilla ia punya kakao, kemiri, lada, sayuran seperti lombok dan ubi. Hasil kebun ini tidak lagi mendongkrak perekonomian keluarganya. Rumahnya masih berlantai tanah. Dindingnya masih dari bambu. Ruangan terasa gelap.

Ia mengaku tinggal di daerah ini tidak gampang. Transportasi untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari jauh. Keluarganya mesti jalan kaki menurungi jalur setapak untuk mendapatkan transportasi truk ke Maumere. Begitu juga dengan warga desa lainnya.

“Bayar biaya orang buat angkut hasil bumi melebihi harga jualnya,” katanya.

Pengetahuan petani tak cukup berhenti sekedar budidaya vanilla saja. Pengetahuan mereka mengenai pemupukan, mengatasi hama, dan menambah nilai dari produksi bisa ikut mendongkrak keterpurukan pasar vanilla saat ini.

Kualitas vanilli sangat ditentukan oleh kadar vanilin yang terdapat dalam buahnya. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh jenis vanillinya, cara bertanam, kondisi geografis, dan cara pengolahan hasil panen. Pengolahan vanilla juga cukup panjang. Mulai dari tahap pelayuan, pemerasan, pengeringan dan penyimpanan.

“Saya sanggup bikin vanilla saya menjadi kering,” katanya.

Pengetahuan dan pengolahan seperti ini ia dapatkan secara otodidak. Namun masalah bagi petani saat ini, harga vanilla sudah tidak masuk akal. Ia tahu bahwa perawatan vanilla tergolong manja. Sehingga, menurutnya, vanilla harus mendapatkan harga yang pantas.

Menurut Endang Hadipoentyanti dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat dalam sebuah jurnal mengatakan bahwa tanaman ini termasuk “emas hijau”. Pada tahun 2003 harga kering tiap kilonya mencapai 1,5 hingga 2,5 juta rupiah. Vanilla termasuk komoditas ekspor.

Pada tahun 2000 Indonesia mengekspor vanilla hingga 350 ton setara dengan nilai US$ 8.530 juta. Indonesia memasok kebutuhan dunia sekitar 30 hingga 40 persen. Kebanyakan vanilla dihasilkan dari perkebunan rakyat seluas 12.222 hektar pada tahun 2002. Beberapa daerah penghasil vanilla antara lain dari Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Lampung dan Sulawesi Utara. Dan Indonesia memiliki 19 jenis vanilla asli.

Masalah utama dalam komoditas vanilla di Indonesia adalah masalah hama penyakit busuk batang. Penyakit ini disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. Sehingga produktivitas dan mutunya masih rendah.

Maumere sudah memiliki potensi lain untuk mendongkrak kehidupan petaninya. Komoditas ini sangat dibutuhkan oleh dunia. Dan Maumere bisa berkontribusi mengirimkan hasil bumi ini. Pemerintahan Sikka mesti cerdas dalam melihat peluang pasar ini. Dan tetap gigih untuk mencari pasar dari komoditas vanilla dengan mengumpulkan informasinya.

Sikka juga mesti kerjakeras untuk membuka akses dan mempermudah warga yang tinggal di daerah ini. Hasil buminya kaya dan menjadi pemasok utama ke pasar-pasar tradisional di Maumere. Setiap hari warga mengirimkan sayuran, lombok, kemiri dan hasil bumi lainnya untuk diperdagangkan.

Petani butuh dukungan dari pemerintah untuk menyiapkan pasar dari luar Maumere maupun Flores. Sehingga hasil bumi seperti vanilla ini tetap mendapatkan pasar dengan harga yang cukup stabil. Sehingga mata rantai perdagangan vanilla tetap tidak putus. Bukan mustahil, kejayaan vanilla dari Maumere ini bisa mekar kembali. Dan petani bisa menikmati kembali keuntungan dari emas hijau itu.

Tenun Alami dari Nusa Bunga

Merawat dan Mengabadikan Tenun Alami Nusa Tenggara Timur.

TIGA perempuan tengah menumbuk akar dan kulit pohon dengan sebilah gelondong kayu. Suara tumbukan terdengar ritmis dan berirama. Keringat peluh terlihat mengucur pada wajah ketiga perempuan itu. Mereka menghaluskan akar dan kulit dari berbagai tumbuhan itu hingga menjadi serbuk.

Ini bahan ramuan utama untuk pewarnaan alami benang. Ada 17 jenis tumbuhan yang bisa menghasilkan warna alami. Nangka. Kapuk Randu. Mangga. Mengkudu. Kemiri. Kacang-kacangan. Hingga tumbuhan lokal seperti Waher, Tener, Dadap, Nila dan Pohon Susu. Tumbuhan ini tumbuh subur di daratan Flores hingga ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.

Mengkudu bisa menghasilkan warna merah dasar. Pohon Nila menghasilkan warna biru. Tumbuhan berbiji belah bisa menghasilkan warna coklat. Pengetahuan membuat ramuan ini mereka dapatkan secara turun temurun dari nenek moyangnya.

“Dua hari rendam dengan air sampai dapat endapan warnanya,” kata Daniel David.

Ia menunjuk pada sebuah gubuk kecil di belakang rumahnya. Ada beberapa ember terlihat penuh dengan air rendaman. Proses perendaman makan waktu dua hingga lima hari untuk mendapatkan warna yang berkualitas.

“Harus telaten. Tidak bisa buru-buru. Ini namanya proses alam,” katanya.

Pewarnaan alami punya beberapa manfaat. Pertama, tidak membawa efek buruk bagi kesehatan bagi si pengrajin tenun. Kedua, ramah lingkungan karena tidak terbuat dari bahan kimia pabrikan. Bahan-bahan ini mereka dapatkan dari tumbuhan di sekitar rumah maupun hutan yang ada di Flores ini.

Namun, kini mereka juga menanam diperkebunannya. Tanaman Menkudu, misalnya. Akarnya bisa digunakan untuk bahan pewarnaan. Namun, tumbuhan ini bisa dipanen setelah berumur lima tahun.

Beberapa contoh benang hasil pewarnaan menggantung di bilik dinding rumahnya. Ada yang berwarna biru tua, muda, merah, putih dan coklat. Suara tumbukan masih terdengar nyaring. Sesekali terdengar gelak tawa dari perempuan itu. Di pojok ruang keluarga terlihat satu perempuan tengah menjahit tenun dengan tangan. Sambil menemani satu bocah kecil yang tengah menonton televisi.

David membawa beberapa contoh kain tenun dari kamarnya. Kain tenun terasa tebal. Bau akar masih terasa nempel pada lembaran kain tenun itu. Warna alami terlihat redup dan tidak mengkilap. Setiap motif kain tenun punya makna dan cerita. Juga fungsinya, baik untuk kalangan orang tua, ketua adat maupun anak muda. Untuk kebutuhan ritual adat, perkawinan hingga sehari-hari.

“Ada pengaruh animisme, dinamisme, katolik, portugis, hingga india,” katanya.

Menurutnya, setiap klan atau suku di Nusa Tenggara Timur punya karakter motif sendiri. Mulai dari Labuanbajo di Manggarai, Ende, Sumba Timur, Atambua di Timor, hingga kepulauan Alor. Namun ada beberapa daerah ditemukan dengan karakter motif yang hampir serupa. Ia memperkirakan ratusan motif tenun tradisional yang berada di Nusa Tenggara Timur. Satu daerah saja bisa punya 40 macam motif. Misalnya di daerah Iwanggete dan Plaue.

Motif-motif ini biasanya muncul dengan menampilkan simbol tertentu. Misalnya legenda naga yang bisa ditemukan di Bajawa, Ende dan Sikka. Naga menjadi simbol kesuburan. Sementara di Alor muncul motif gajah. Simbol ini diperkirakan pengaruh dari India. Ketika masa perdagangan rempah-rempah pada abad ke 16 hingga 18 silam berlangsung di kepulauan Nusantara ini. Selain itu ada motif bunga hingga binatang macam tokek, ikan, gurita dan kura-kura.

“Tak banyak yang tahu mengenai cerita dan legenda dari kain tenun tradisional. Saya riset untuk mempelajari penyebaran dan makna dibalik setiap motif itu,” katanya sambil membakar rokok kreteknya.

Kecintaan David terhadap kain tenun berawal dari 10 tahun yang lalu. Orang tuanya pernah mengingatkan agar ia mencintai budayanya sendiri. Ia melihat banyak perempuan dikampungnya, Watublapi yang menjadi pengrajin tenun.

Kampung Watublapi sekitar 10 kilometer arah timur dari Maumere, Kabupaten Sikka. Banyak pengrajin tenun sudah menggunakan bahan kimia untuk proses pewarnaan. Mereka meninggalkan keterampilan dan pengetahuannya tentang penggunaan bahan-bahan alami.

“Mereka bilang ini sudah modern. Kalau alami itu masa nenek moyang,” katanya.

David mengajak agar pengrajin tenun dikampungya tetap mempertahankan tadisi alami. Namun tak mudah karena pengrajin ini sudah terbiasa menggunakan bahan pewarna kimia. Alasannya karena lebih praktis dan gampang.

Menurutnya, penggunaan kimia justru tidak menguntungkan bagi si pengrajin. Ia khawatir kimia punya dampak buruk terhadap kesehatan warga dan lingkungan. Pengrajin justru menambah beban sendiri dengan mengeluarkan uang tambahan untuk membeli bahan warna kimia ini. Satu botol pewarna kimia dipasaran sekitar 70 ribu rupiah. Belum lagi untuk membeli bantal benang sekitar 50 ribu rupiah.

“Satu tenun butuh waktu pengerjaan sekitar dua bulan. Kalau dijual pun tidak untung. Ongkos tenaga kerja tidak dihitung,” katanya. Rata-rata harga untuk tenun dalam bentuk selendang sekitar 50 ribu rupiah. Dan untuk sarung antara 200 ribu hingga 300 ribu rupiah.

Ia menunjukkan bahwa tenun yang menggunakan bahan alami justru punya nilai tambah yang lebih. Rata-rata harga satu lembar tenun selendang sebesar 100 hingga 250 ribu rupiah. Dan untuk sarung maupun lembaran yang lebih besar bisa mencapai satu hingga dua juta rupiah.

Kain tenun alami banyak diburu oleh kolektor dan pecinta kain tradisional dari luar daerah Flores. Diantaranya dari Bali dan Jakarta. Pesanan juga banyak untuk kebutuhan penjualan ke negara luar seperti Amerika, Jerman, Singapura dan Jepang. Kain tenun tradisional alami ini kerapkali untuk mengisi kebutuhan galeri dan museum-museum. Penjualan kain tradisional yang masuk kategori antik bisa mencapai 25 juta hingga 80 juta rupiah.

Ia melihat peluang bisnis penjualan tenun bisa menguntungkan. Namun perlu tenaga dan waktu untuk terus mempromosikan keberadaan tenun alami tradisional ini. Mulai dari riset, sejarah, karakteristik motif, pengemasan hingga untuk kebutuhan pendidikan budaya tradisi.

Sampai sekarang ia melihat tak ada upaya yang serius dari pemerintah lokal untuk melestarikan budaya ini. Seringkali pendekatan pemerintah dalam bentuk proyek hingga promosi pameran.

“Mereka jarang bawa pengrajinnya untuk mengikuti pameran,” katanya.

Pemerintah tidak melakukan pendekatan yang lebih merakyat untuk mendorong pemberdayaan. Sehingga keberadaan produk budaya ini bisa memberikan manfaat pada perekonomian warga. Selain untuk melestarikan kekayaan budaya dan pariwisata di Nusa Tenggara Timur.

Setiap daerah punya motif sendiri. Namun sayang, pemerintah daerah tidak mengemas ini dengan ciamik. Kain-kain tradisional ini dijual secara eceran di lapak-lapak dan pasar. Tidak ada satu kawasan khusus yang menjual benda-benda seni. Sehingga bisa terlihat lebih rapi.

“Pasar lokal masih sulit berkembang. Orang awam sulit untuk membedakan mana tenun yang berkualitas mana yang tidak. Kalau yang ada dipasaran, itu semua menggunakan kimia. Cirinya lebih mengkilap,” katanya.

Di Watublapi ia bersama warga kemudian membentuk kelompok Bliran Sina. Artinya, sangat sejuk atau teduh. Kelompok ini mempromosikan budaya, musik dan tenun tradisional Sikka. Termasuk penggunaan bahan alami untuk proses pewarnaan tenun. Kelompok ini juga membentuk usaha keuangan mikro berupa simpan pinjam.

Usaha ini ternyata membawa berkah bagi kampungnya. Apalagi saat itu warga tengah terpuruk akibat gagal panen kokoa. Usaha tenun alami lambat laun bisa mendongkrak kehidupan di Watublapi. Kampung ini lambat laun dapat kunjungan dari wisatawan luar.

Warga juga tidak keberatan menyelenggarakan acara budaya seperti pertunjukkan musik dan tarian tradisional. Saat ini kelompok Bliran Sina sudah memiliki kerjasama dengan travel dan agen-agen wisata yang berbasis di Bali.

“Penjualan langsung dalam satu hari bisa sampai 250 juta,” katanya.

Pengrajin dan pembeli bisa membeli langsung dan berdialog. Masyarakat senang dengan sistem pasar seperti ini. Karena lebih terbuka dan manusiawi. Setiap bulannya pengiriman tenun alami tradisional ke Bali dan Jakarta sekitar 20 hingga 40 lembar. Dengan proses seleksi agar kualitasnya tetap terjaga.

Pengembangan dari tenun ini belum berkembang. Masyarakat lokal belum mampu untuk merancang dalam bentuk lain seperti tas, sepatu, gorden, taplak meja makan hingga gaun. Modifikasi juga masih sulit karena kain tenun terlalu tebal. Alternatif lain pernah coba dengan menggunakan benang sutera. Hasilnya halus. Harga tinggi. Namun bahan dan pengerjaan masih terlampau sulit.

“Kita sering bicara masalah paten. Namun belum bisa. Banyak kain tenun di rumah adat yang sudah banyak hilang. Tidak jelas kemana rimbanya,” katanya sedih.

Sudah lima tahun sudah ia keliling kampung di kepulauan Nusa Bunga ini. Ia terus mencari dan mendalami makna dari setiap motif kain tenun ini. Ia percaya bahwa produk budaya ini bisa memberikan dampak pada perekonomian warga. Kain tenun juga sudah melekat dengan kehidupan warga. Mulai dari aktifitas berkebun hingga ke pasar.

“Kelak saya ingin punya museum tenun tradisional. Mulai dari contoh kain hingga peralatan tenun yang tua. Supaya orang bisa belajar dan melestarikan tenun-tenun itu,” katanya.

Pertengahan tahun ini ia menargetkan agar proyek duplikasi 40 motif Sikka bisa kelar. Termasuk sebuah galeri seni yang bisa menjadi episentrum penjualan kain tenun alami tradisional itu.

Cantik Nian Alor

Semburat air laut terlempar ke langit biru. Suasana hening pagi itu tiba-tiba meriah oleh teriakan awak kapal.

“Lihat sana!,”

“Tunggu-tunggu,”

“Whusssssssshh,”

Seperti pasukan elit kepolisian Amerika, SWAT. Wartawan yang hendak mengabadikan moment itu langsung memasang kamera. Berlari ke arah dek kapal depan. Mencari posisi untuk membidik aksi ini.

Satu hingga lima detik kemudian semburan itu kembali terlihat dari jarak sekitar 50 meter. Dan menimbulkan riak gelombang. Satu ekor ikan paus terlihat muncul untuk mencari udara segar. Hingga ekornya mengibas ke langit seolah memberi tanda “selamat jalan, tuan”. Dan kemudian laut kembali tenang seperti sedia kala.

Lensa kamera terlalu pendek, sial. Pemandangan alam ini lewat begitu saja dari tangkapan kamera foto. Keringat membasuh muka. Namun hati senangnya bukan main. Untuk pertama kalinya saya melihat semburan air laut dari seekor ikan paus. Walau saya tidak tahu jenis ikan paus apa yang baru saya lihat itu.

Sudah satu hari saya melakukan perjalanan laut dengan menaiki kapal kayu Kotekelema akhir tahun 2008 di kepulauan Alor. Kapal pendidikan WWF ini berangkat dari Pelabuhan Kalabahi di Pulau Alor Besar. Dan kemudian merayap pelan menuju pulau-pulau di sekitar Alor. Seperti Pulau Lapan, Pulau Merica, Pulau Buaya dan Pulau Pantar.

Kepulauan ini cantik. Pasir putih. Terumbu karang yang masih alami. Air laut yang jernih. Ikan-ikan karang yang berwarna warni. Banyak plankton sebagai makanan utama ikan. Alor terkenal dengan kekayaan ikannya.

Di Pulau Lapan pertama kali saya singgah. Sengatan terik matahari langsung membakar kulit. Saya yang tidak membawa alas kaki seperti seekor cacing yang kepanasan. Telapak kaki tidak kuat menahan panas. Di sana ada beberapa gubuk dari bambu. Sudah terlihat reyot. Pulau ini tidak terlalu besar. Dari ujung ke ujung terlihat jelas. Dari sebelah barat tampak Pulau Lembata.

Masyarakat di Pulau Lapan terkenal dengan budidaya rumput laut. Mereka juga menggantungkan hidupnya dengan menangkap ikan. Dan kemudian mereka mengeringkan ikan itu menjadi ikan asin. Rata-rata mereka menangkap ikan kakap merah. Dagingnya tebal. Dan kalau digoreng, amit-amit wanginya. Sedaaap banget.

Warga yang tinggal di Pulau Lapan kurang lebih sekitar 15 kepala keluarga. Mereka tinggal di pulau ini selama satu minggu. Mereka akan kembali pulang ke Pulau Pantar setelah kehabisan air mineral dan makanan.

Di Lapan memang tidak ada sumber air mineral. Setiap minggunya mereka akan bermigrasi seperti itu. Kehidupan di Lapan akan ramai ketika anak-anak libur sekolah. Mereka akan menghabiskan waktu liburannya di pulau ini. Berenang. Mencari ikan. Bermain perahu. Dan membantu orangtuanya mengeringkan rumput laut dan ikan kering.

Menjelang sore hari sekitar pukul 2 siang air laut di sekitar Lapan akan surut. Kapal besar tidak bisa melintas. Pasir putih langsung terhampar luas seperti gurun pasir. Warga yang hendak pulang ke pulau lain mesti berjalan kaki melintasi gurun pasir putih tadi. Dan kemudian baru naik sampan kecil untuk naik kapal penumpang yang bisa memuat banyak orang. Dari kejauhan ketika warga berjalan kaki seperti berjalan di atas air. Sungguh menakjubkan.

Kawan saya, Emy bercerita. Orangnya lucu. Gemuk. Suaranya bagus kalau lagi bernyanyi. Ia asli putra Alor dan sangat menyayangi kepulauan ini. Ia bilang bahwa Alor indah. Lautnya bagus. Namun, katanya, mesti hati-hati dengan arus dalam. Alor terkenal dengan arus kencangnya. Tidak sedikit kapal yang karam. Namun, pelaut di Alor sudah tahu titik mana saja yang rawan dan berbahaya.

Kepulauan Alor masih alami. Ada beberapa pulau yang masih lebat dengan pohon-pohon. Ada pula yang kering dan gundul seperti pulau lainnya di daerah Flores. Alor juga menjadi habitat bagi rusa-rusa. Pemerintahan Alor melakukan budidaya hewan pemamah biak ini. Warga dilarang menembak rusa-rusa liar. Mereka yang berhasil menangkarkan rusa akan mendapatkan imbalan dari pemerintahan Alor.

Di rumah dinas bupati Alor saya sempat mencicipi daging rusa. Dagingnya wangi. Tidak liat. Enak sekali. Selain itu di Alor juga terkenal dengan hasil buminya. Seperti vanilla, pohon Cendana dan Gaharu, Jati Emas, mete, cengkeh dan tentu saja Kenari. Kenari menjadi maskot Alor.

Kenari biasanya dipakai untuk kue. Rasanya gurih. Buah kulitnya berwarna coklat. Di Alor satu kilonya seharga 25 – 30 ribu rupiah. Buah ini setiap hari bisa dicari di pasar tradisional.

Selama perjalanan kami menikmati makanan yang disajikan oleh awak kapal. Namun sepanjang perjalanan kami sama sekali tidak mencicipi ikan. Setiap hari hanya ketemu dengan ayam saja. Beruntung perjalanan tidak sampai berhari-hari. Bayangkan kalau tiap hari mencicipi daging ayam terus.

Ayi Ardisastra orang Tasikmalaya. Ia kepala perwakilan WWF di Solor Alor ini. Ia jago diving dan sempat mengajarkan beberapa tehnik mengenai menyelam. Indarwati kawan lama saya di Pantau juga bekerja untuk WWF Kendari. Indarwati pintar menulis. Juga saya baru tahu ia jago untuk urusan diving dan snorkelling. Bahkan ia sempat mengajari kami cara menikmati alam bawah laut.

“Jangan panik. Jangan melepaskan google. Jangan menyentuh mahkluk hidup, ” katanya.

Beberapa kali ia sering mengingatkan bahwa olahraga diving maupun snorkelling termasuk kategori ekstrem. Artinya termasuk olahraga yang rawan. Namun, kalau tahu tehniknya, olahraga ini bisa memberikan kepuasan dan kenikmatan.

Dan saya baru tahu memang betul kegiatan menyelam dan menikmati alam bawah laut sesuatu yang menyenangkan. Saya bisa belajar banyak, melihat alam yang berbeda, saya merasa kecil diribuan hamparan kedalaman lautan.

“Lama-lama bisa ketagihan. Tidak banyak wartawan yang bisa diving dan menulis tentang dunia bawah laut,” kata Indar.

Hmm, betul juga. Mana mungkin wartawan punya waktu untuk menikmati kegiatan seperti ini. Setiap hari wartawan bekerja. Atur dan bikin janji wawancara. Menulis hingga larut malam. Wartawan juga hidupnya di darat. Menulis tentang kehidupan di darat. Pikiran dan imajinasinya cuma mentok di darat.

Indarwati mengajak saya snorkelling di Pulau Buaya. Di sini arusnya tidak terlau kencang. Saya banyak melihat ikan. Dari yang warnanya biru, merah hingga hitam. Sayang, di sini terumbu karangnya banyak yang sudah rusak. Satu jam kami belajar snorkelling. Mantap. Sekali nyebur, otot dan syaraf di otak langsung ces plong.

Kota Kalabahi adalah kota menghadap laut. Kotanya kecil namun jalannya sudah hotmix. Banyak pohon. Kebutuhan sehari-hari dipasok dari Surabaya, Kupang maupun dari Maumere.

Di sini saya sempat mencicipi buah mangga. Ukurannya tak lazim. Besar sekali. Orang Alor mengenalnya dengan Mangga Kelapa. Mangga ini enak kalau dicicipi pada saat masih muda. Rasanya yang jelas tidak seperti kelapa. Tapi mangga.

Marlon, kawan baru saya di Alor mengajak saya melihat Kalabahi dari atas perbukitan. Indah sekali kota ini. Marlon membantu di Swisscontact. Ia juga sering menjadi pemandu wisata kalau ada turis asing yang tengah berkunjung ke Alor.

Tidak lengkap kalau datang ke Alor tidak menikmati di penginapan La P’Tite di Pulau Kepa. Ini penginapan kepunyaan Anne B Lechat. Anne sudah lebih 10 tahun tinggal di pulau ini bersama keluarganya. Ia warga negara Perancis. Anne juga membantu Swisscontact, khususnya di sektor rumput laut.

Kepa pulau kecil. Pasirnya putih. Dan bisa langsung snorkelling. Tiap tahun di sini terjadi fenomena alam. Ada tabrakan antara arus panas dan arus dingin. Ikan meloncat ke darat. Orang ramai-ramai mengambil ikan.
Rasanya semakin betah saja tinggal di kepulauan macam Flores dan Alor ini. Tenang dan tidak bising. Waktu berjalan pelan sekali. Saya menikmati perjalanan ini.